Dari Kota ke Pulau Terluar: Tunas Cendekia dan LAZ Batam Hadirkan Cinta Qurban untuk Negeri


Batam — Iduladha 1446 H/2025 M menjadi panggung kepedulian yang menggugah dari Sekolah Tunas Cendekia. Melampaui sekadar prosesi ibadah tahunan, lembaga pendidikan ini menorehkan aksi kemanusiaan yang bermakna: menyentuh hati masyarakat di wilayah 3T (tertinggal, terluar, dan terdepan) melalui kolaborasi strategis bersama Lembaga Amil Zakat (LAZ) Batam.


Tahun ini, semangat qurban menjelma menjadi gerakan nyata. Tidak hanya disembelihkan di lingkungan sekolah, hewan qurban yang dihimpun dari partisipasi guru, yayasan, orang tua, hingga siswa Taman Kanak-kanak sampai SMP ini diproses menjadi rendang berkualitas dan dikirimkan ke Pulau Caros—sebuah pulau kecil di perbatasan yang selama ini seolah terabaikan dalam putaran pembangunan nasional.


Ketua Panitia Qurban, Ustadz Roni Fadilah, menegaskan bahwa esensi qurban adalah kepedulian yang hidup, yang bergerak dari hati dan menjangkau mereka yang berada jauh dari sorotan.


> “Qurban bukan hanya bentuk taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah, tetapi juga panggilan untuk menebar cinta dan solidaritas. Dengan menggandeng LAZ Batam, kami memastikan bahwa makna qurban tidak hanya terasa di lingkungan internal sekolah, tetapi menjangkau pulau-pulau terdepan seperti Caros yang sering luput dari perhatian,” ungkapnya.




Tidak mudah menjangkau Pulau Caros. Selain tantangan logistik dan medan, wilayah ini memiliki keterbatasan dalam akses pangan dan fasilitas dasar. Karena itu, daging qurban yang dikirimkan tidak dalam bentuk mentah, melainkan telah diolah menjadi rendang—makanan tradisional kaya gizi yang lebih awet dan praktis.


Sekretaris LAZ Batam, Darwis, menjelaskan bahwa pendekatan ini merupakan bagian dari strategi transformasi sosial yang berkelanjutan.


> “Di daerah-daerah seperti Caros, membeli bumbu dapur bisa lebih mahal daripada harga daging itu sendiri. Ditambah keterbatasan alat masak, banyak masyarakat kesulitan mengolah bahan mentah. Dengan mengolahnya menjadi rendang, kami tidak hanya mengirim makanan, tapi juga solusi,” jelas Darwis.




Paket rendang itu bukan sekadar kiriman logistik—ia adalah tanda cinta dari pusat kota kepada garda terdepan Nusantara. Ketika masyarakat Caros membuka bungkusan rendang itu, yang mereka rasakan bukan hanya rasa lezat, tetapi juga kehadiran, pengakuan, dan cinta yang nyata dari sesama anak bangsa.


Program bertajuk “Sebar Hewan Qurban untuk Wilayah 3T” ini sejatinya adalah pendidikan dalam bentuk paling utuh. Ia bukan hanya mengajarkan nilai-nilai empati dan gotong royong di kelas, tetapi membawanya hidup dalam tindakan nyata. Anak-anak Tunas Cendekia belajar bahwa berbagi bukan tentang kelebihan materi, tetapi keberanian untuk peduli dan bergerak bersama.


Aksi ini disambut dengan antusiasme tinggi oleh para orang tua, yang melihatnya sebagai jalan mulia untuk menanamkan nilai luhur kepada generasi penerus.


Ucapan terima kasih yang tulus mengalir kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi—para pequrban, donatur, guru, orang tua, dan tim LAZ Batam—yang bahu membahu menjadikan Iduladha ini lebih dari sekadar perayaan. Mereka adalah para penjaga nilai, yang melalui langkah kecilnya telah membuka jalan panjang menuju keadilan sosial yang lebih merata.


Sekolah Tunas Cendekia berharap, gerakan ini tidak berhenti di tahun ini. Kolaborasi dengan LAZ Batam diharapkan menjadi awal dari tradisi tahunan yang bukan hanya menyalurkan daging qurban, tetapi juga menghadirkan harapan, membangun jembatan kemanusiaan, dan mengingatkan kita semua bahwa sejauh apa pun jarak, kepedulian selalu mampu menjangkau.


> “Kita tidak sedang mengirim rendang. Kita sedang mengirim pesan,” tutup Ustadz Roni, “bahwa mereka yang di ujung negeri adalah bagian utuh dari cerita besar bangsa ini.”(Vika)

 

Lebih baru Lebih lama

Tag Terpopuler