Tanjungpinang – Menjelang 02 Oktober 2025 pengurus inti UMKM Taman Gurindam 12 mengeluarkan maklumat resmi yang ditujukan kepada seluruh pedagang. Maklumat tersebut berisi seruan untuk menjaga ketenangan, kekompakan, serta fokus bekerja sesuai bidang masing-masing, sambil menyiapkan langkah-langkah strategis menghadapi dinamika yang kian memanas.
Pengurus menegaskan bahwa musyawarah mufakat akan menjadi forum penentuan arah perjuangan, di mana seluruh keputusan akan diambil secara kolektif dan bersifat mengikat. Mereka juga menekankan pentingnya disiplin barisan untuk mencegah masuknya provokasi dan intervensi pihak luar yang mencoba melemahkan gerakan UMKM.
Sejumlah pakar menilai maklumat ini sebagai peringatan keras sekaligus alarm politik bagi pemerintah daerah. Pakar sosiologi ekonomi menegaskan, “Ketenangan dan soliditas internal UMKM Gurindam 12 harus dibaca sebagai sinyal bahwa mereka siap menghadapi ketidakadilan struktural. Pemerintah tidak boleh lagi memandang enteng suara rakyat kecil yang bergantung hidup dari kawasan kuliner ini.”
Pengamat kebijakan publik menambahkan bahwa musyawarah mufakat akan menjadi ujian kepemimpinan kolektif UMKM sekaligus batu uji bagi keseriusan pemerintah. “Kalau pemerintah daerah terus bersikap ambigu, lamban, dan tidak berpihak, maka gelombang perlawanan damai UMKM akan semakin besar. Jangan sampai pemerintah justru dicatat sejarah sebagai penguasa yang menutup mata terhadap jeritan ekonomi rakyatnya sendiri,” tegasnya.
Lebih keras lagi, seorang analis ekonomi kreatif menyebut bahwa problem terbesar UMKM Gurindam 12 bukan hanya soal tata kelola internal, melainkan sikap inkonsistensi pemerintah. “Mereka (pemerintah) sering bicara soal pemberdayaan UMKM, tapi pada praktiknya justru memberi ruang lebih besar kepada kepentingan bisnis besar dan investor. Ini jelas ironi: yang kecil dibiarkan berjuang sendiri, sementara yang besar disambut karpet merah,” ujarnya dengan nada tajam.
Maklumat tersebut ditutup dengan doa dan tekad perjuangan. Pengurus menekankan bahwa musyawarah mufakat harus menjadi momentum lahirnya keputusan bersejarah: membersihkan Taman Gurindam 12 dari oknum perusak demokrasi, meneguhkan persatuan, dan menolak segala bentuk intimidasi. “Siapapun yang mencoba menunggangi gerakan UMKM, kami anggap sebagai provokator dan musuh bersama,” tegas salah satu pengurus inti.
Dengan demikian, maklumat ini bukan sekadar seruan moral, tetapi juga deklarasi sikap politik-ekonomi UMKM Gurindam 12. Mereka ingin membuktikan bahwa rakyat kecil tidak bisa lagi dipinggirkan, apalagi diperlakukan sebagai objek semata. Di bawah satu panji perjuangan, UMKM Gurindam 12 menegaskan: persatuan adalah kekuatan, dan keadilan adalah harga mati.Yti
