Tragedi Kemanusiaan di RS Jasmine: Keluarga Ny. AK Soroti Lambannya Tindakan Darurat


 

Batam – Kematian tragis Ny. AK, seorang perempuan muda yang meninggal dunia usai mengalami keguguran dan dirawat di Rumah Sakit Jasmine, Batam Centre, memunculkan tanda tanya besar mengenai standar penanganan kegawatdaruratan medis di fasilitas kesehatan tersebut. Kepergiannya pada Senin dini hari, 22 Januari 2025, menggugah keluarga untuk menuntut keadilan atas dugaan kelalaian yang diduga turut mempercepat ajalnya.

Melalui kuasa hukum mereka, Adv. Agus Simanjuntak dan Adv. Jemi Prengki, keluarga resmi mengadukan pihak rumah sakit beserta dokter penanggung jawab, dr. Kiko Randitama, Sp.OG, kepada Dinas Kesehatan Kota Batam dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Terlambat Bertindak, Nyawa Melayang

Dalam konferensi pers yang digelar Jumat (23/5/2025), pengacara keluarga memaparkan kronologi mencekam yang terjadi beberapa jam sebelum Ny. AK wafat. Tiba di rumah sakit pada Minggu malam sekitar pukul 21.30 WIB dalam kondisi pendarahan serius, Ny. AK disebutkan tidak mendapatkan respons cepat saat mengalami penurunan kondisi mendadak sekitar pukul 04.00 WIB.

“Pasien mengeluh sesak napas dan semakin melemah, namun permintaan pemberian oksigen ditolak karena menunggu instruksi dokter. Dalam kondisi gawat, penundaan seperti ini fatal,” ujar Adv. Agus dengan nada tegas.

Minim Empati, Dialog Tak Terbangun

Keluarga merasa tersinggung dengan sikap RS Jasmine yang hanya memberikan jawaban tertulis setelah dikirimkan surat somasi. Tidak ada pertemuan langsung atau ungkapan bela sungkawa dari pihak rumah sakit. Respons dari IDI pun dianggap tidak mencerminkan keadilan karena dikeluarkan tanpa mendengar keterangan keluarga korban.

“Kami kecewa. Laporan etik tidak disertai klarifikasi menyeluruh. Seolah suara keluarga tidak penting dalam penilaian,” kata Adv. Jemi.

Lebih dari Sekadar Gugatan, Ini Seruan Nurani

RS Jasmine menyatakan bahwa seluruh prosedur telah dijalankan sesuai protokol. Namun bagi keluarga, penjelasan tertulis tanpa sentuhan kemanusiaan tidak cukup. Mereka berharap tragedi ini menjadi titik tolak perubahan, bukan hanya sekadar penanganan kasus semata.

“Kesedihan ini tak bisa diukur. Kami hanya ingin perbaikan sistem agar tak ada lagi keluarga lain yang merasakan duka seperti kami,” ujar suami almarhumah dengan suara bergetar.

Seruan Reformasi di Balik Tragedi

Kematian Ny. AK menjadi alarm keras bagi dunia medis. Banyak pihak mulai mempertanyakan kebijakan yang membatasi inisiatif petugas medis non-dokter dalam kondisi darurat. Ketika detik menentukan hidup-mati, prosedur tidak boleh menjadi tembok penghalang tindakan penyelamatan.

“Ini bukan hanya kasus keluarga kami. Ini tentang nyawa yang seharusnya dilindungi oleh sistem yang lebih manusiawi,” tutup keluarga. (Nursalim Turatea/Yti).

Lebih baru Lebih lama

Tag Terpopuler